Di panggung Ciputra Artpreneur, Jakarta, sebuah kisah sejarah yang jarang muncul dalam buku pelajaran sedang disiapkan untuk dibawa ke layar hidup. Pementasan teater berjudul Nyonya Ati Soetji akan tayang pada hari Jumat dan Sabtu, 30 dan 31 Oktober 2026. Pertunjukan ini mengangkat perjuangan seorang tokoh nyata: Ibu Aw Tjoei Lan, pahlawan keturunan Tionghoa yang berani melawan praktik perdagangan manusia—khususnya terhadap perempuan dan anak-anak—pada masa Hindia Belanda sekitar tahun 1930-an.
Nama Aw Tjoei Lan, atau dalam bentuk lain Auw Tjoei Lan, mungkin belum begitu dikenal luas dibanding tokoh-tokoh pergerakan perempuan lainnya. Namun, kontribusinya terhadap perjuangan sosial pada masa itu sangat signifikan. Ia lahir di Majalengka pada tahun 1889, tumbuh dalam lingkungan keluarga keturunan Tionghoa yang terpandang, lalu pindah ke Batavia setelah menikah pada tahun 1907. Di kota itu, ia dikenal dengan gelar Njonja Ati Soetji.
Aw Tjoei Lan bersama sejumlah tokoh lain turut serta dalam pendirian organisasi bernama Hati Suci atau Ati Soetji. Berdasarkan catatan sejarah yang tersedia, lembaga ini didirikan sebagai respons terhadap maraknya perdagangan perempuan dan anak-anak, sekaligus sebagai upaya memberikan pendidikan kepada korban-korban tersebut. Seiring waktu, aktivitas organisasi ini berkembang pesat, meliputi panti asuhan, tempat penampungan, hingga pendirian sekolah.
Karena itu, pementasan Nyonya Ati Soetji dianggap memiliki nilai penting yang lebih dari sekadar seni pertunjukan. Ia menjadi jendela bagi publik untuk melihat sisi lain dari sejarah Indonesia—khususnya perjuangan seorang perempuan yang berani melindungi kelompok paling rentan dalam masyarakat pada masa kolonial.
Awal mula ide pementasan ini bermula dari perayaan ulang tahun ke-100 Yayasan Hati Suci. Saat itu, tim produksi merasa terdorong untuk menghidupkan kembali kisah sang pendiri melalui seni teater. Bagi Joanne Win, yang dipercaya memerankan tokoh Nyonya Aw Tjoei Lan, ini bukan sekadar proyek artistik, tetapi bentuk edukasi sejarah bagi generasi muda. "Generasi muda zaman sekarang juga harus tahu bahwa mereka juga mempunyai pahlawan Indonesia keturunan Tionghoa yang juga banyak jasanya kepada Indonesia, khususnya dalam kasus perdagangan manusia," ujar Joanne Win.
Proses persiapan pementasan melibatkan riset mendalam yang tidak hanya berbasis dokumen, tetapi juga sumber langsung. Karena catatan pribadi tentang Aw Tjoei Lan sangat terbatas, tim memilih untuk menelusuri arsip Belanda guna memahami konteks sosial dan politik zaman itu. Selain itu, mereka melakukan wawancara dengan salah satu cucu mendiang Nyonya Aw, yang memberikan gambaran jelas tentang kehidupan sehari-hari, kepribadian, bahkan gaya bicara sang tokoh.
Detail-detail kecil yang diperoleh dari wawancara ini menjadi kunci dalam membentuk karakter yang hidup di atas panggung. Dengan begitu, penonton tidak hanya melihat sosok yang disebutkan dalam buku sejarah, tetapi merasakan kehadiran Nyonya Aw Tjoei Lan sebagai manusia nyata dengan emosi dan motivasi yang kompleks.
Salah satu daya tarik utama pementasan ini adalah kehadiran Maudy Koesnaedi. Aktris yang selama ini dikenal melalui peran protagonis kini harus memerankan tokoh fiktif bernama Sayap Hitam, seorang antagonis yang menjadi simbol kekuasaan dan dominasi dalam narasi teater.
"Baru pertama kali ini dikasih kepercayaan mendapatkan peran antagonis dan... aku menikmati sekali," ungkap Maudy. Ia menyadari bahwa peran ini jauh dari zona nyaman, tetapi juga menawarkan tantangan artistik yang menarik. Baginya, bermain sebagai tokoh antagonis bukan sekadar soal memainkan kejahatan, melainkan memahami latar belakang dan logika di balik tindakan karakter tersebut.
Salah satu tantangan teknis yang tak terduga justru datang dari aspek fisik: kuku panjang. Maudy mengaku harus beradaptasi dengan penampilan fisik yang tidak biasa, terutama saat berakting dalam adegan yang membutuhkan gerakan halus dan ekspresif. "Tantangannya ini melakukan gerakan-gerakan dengan kuku panjang itu ternyata ribet ya, sulit gitu lho, mau copot, mau jatuh," tambahnya sambil tertawa.
Meski memerankan tokoh antagonis, Maudy justru menemukan refleksi moral yang mendalam dari proses akting ini. Ia menyadari bahwa setiap karakter—bahkan yang dianggap jahat—memiliki cerita dan alasan yang bisa dipahami. "Ketika kita menjadi manusia kita harus punya hati nurani dan akal budi, supaya kita bisa mempertanggungjawabkan keputusan-keputusan apa yang kita ambil di dalam hidup kita," kata Maudy, menunjukkan bagaimana seni teater mampu membawa pemirsa ke dalam dimensi etika dan empati yang lebih kompleks.
Ketika ditanya lebih lanjut, "Karena tanpa adanya hati nurani dan akal budi, kalau cuma dijawab berdasarkan pernyataan dan argumentasi, itu bisa aja jadi semua benar." muncul sebagai refleksi mendalam tentang moralitas dalam konteks perdagangan manusia. Pesan itu terasa sangat relevan, mengingat bahwa tokoh antagonis dalam cerita semacam ini sering kali membenarkan tindakannya dengan alasan-alasan yang tampak masuk akal bagi mereka sendiri. Melalui perannya, Maudy seolah menyampaikan pesan kuat: bahwa nurani harus tetap menjadi pedoman utama, terlepas dari tekanan atau justifikasi yang muncul dari situasi kompleks.
Selain Maudy, aktris Tika Bravani turut ambil bagian dalam produksi ini. Ia memerankan karakter Nona Nevel, seorang staf pengajar di panti asuhan yang tergerak hatinya saat menyaksikan nasib anak-anak korban perdagangan manusia. Peran ini menuntut empati dan kedalaman emosional yang tinggi, karena Nona Nevel menjadi simbol kepedulian yang tumbuh dari pengalaman langsung melihat penderitaan anak-anak yang tak berdaya.
Bagi Tika Bravani, tantangan terbesar dalam pementasan ini justru datang dari aspek vokal. "Cuma ada nyanyi aja sih... nyanyi sambil ngomong, sambil nyanyi lagi, yang menurut saya agak aneh tapi harus seolah-olah itu natural," ungkapnya, menunjukkan bahwa performa di atas panggung tidak hanya membutuhkan akting, tetapi juga kemampuan menyanyi yang kuat dan terlatih. Hal ini menegaskan bahwa pementasan bukan sekadar drama berdialog biasa, melainkan bentuk seni yang menggabungkan musik dengan narasi.
Kehadiran lagu dalam alur cerita memberikan dimensi baru bagi pengalaman penonton. Musik tidak hanya menjadi latar, tetapi menjadi bagian integral dari narasi—menggambarkan perasaan, menegaskan konflik, dan memperdalam emosi yang sedang dialami tokoh. Bagi penonton, ini menciptakan pengalaman teater yang lebih hidup, imersif, dan menyentuh secara emosional.
Pementasan Nyonya Ati Soetji diproduksi oleh Regina Art dengan arahan sutradara Wawan Sofwan. Naskahnya ditulis oleh Endah D. Jenura, yang mengaku menghabiskan sekitar dua tahun untuk riset mendalam terkait tokoh dan konteks sejarah yang diangkat. Proses ini menunjukkan komitmen tinggi terhadap akurasi dan kedalaman cerita, meskipun tetap mempertahankan elemen artistik.
Jajaran pemain yang terlibat tidak hanya terdiri dari Maudy dan Tika Bravani, tetapi juga mencakup nama-nama seperti Willem Bievers, Lutfi Ardiansyah, Chloe Gerry, Jim Lim, Haikal Mubarok, Andri Surawan, dan Andi Solohin. Joanne Win turut tercatat sebagai produser eksekutif, menandai keterlibatan berbagai pihak dalam proses produksi yang kompleks dan intensif.
Dari pihak Yayasan Hati Suci, wakil ketua mereka, Wenny, menyambut baik pementasan ini. Ia menekankan bahwa kisah yang dibawakan bukan sekadar sejarah yang tercatat di buku, tetapi juga sebuah teladan nyata yang layak dijadikan inspirasi bagi generasi saat ini dan mendatang.
Kiprah Aw Tjoei Lan, tokoh utama dalam cerita, pernah mendapatkan pengakuan internasional pada masa hidupnya. Pada tahun 1935, Ratu Wilhelmina dari Belanda memberinya penghargaan Ridder in de Orde van Oranje-Nassau sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya dalam memperjuangkan hak-hak perempuan dan pendidikan.
Dua tahun kemudian, Aw Tjoei Lan mewakili Hindia Belanda dalam pertemuan Liga Bangsa-Bangsa di Bandung. Di forum tersebut, ia secara tegas menyuarakan pentingnya pendidikan bagi perempuan miskin sebagai bentuk perlindungan terhadap perdagangan manusia—sebuah argumen yang masih relevan hingga hari ini.
Cerita seperti ini menunjukkan bahwa panggung teater memiliki peran penting dalam menghidupkan sejarah yang sering kali terasa jauh dan kaku. Bagi anak muda, tokoh-tokoh besar dalam buku sejarah sering kali terasa abstrak. Namun melalui akting, musik, dan dialog yang hidup, tokoh-tokoh tersebut bisa menjadi lebih dekat, manusiawi, dan mudah dipahami.
Perlu dicatat bahwa pementasan ini merupakan karya seni fiksi, bukan dokumenter sejarah. Karakter seperti Sayap Hitam adalah ciptaan fiktif yang dibuat untuk memperkuat dramatisasi cerita. Sementara itu, narasi utama berakar pada perjuangan nyata Aw Tjoei Lan. Karena catatan tertulis dan visual tentang hidupnya terbatas, sebagian adegan dan dialog dikembangkan melalui interpretasi artistik yang kaya.
Melalui pendekatan ini, sejarah tidak hanya disampaikan secara kaku, tetapi juga dikenalkan dengan cara yang lebih akrab dan menarik bagi generasi muda. Dengan menggabungkan fiksi dan fakta, pementasan berhasil menjembatani antara masa lalu dan kehidupan kontemporer, membuktikan bahwa sejarah bisa dibawakan dengan hangat, menyentuh, dan tetap relevan.
Bagi yang ingin menonton, Nyonya Ati Soetji akan dipentaskan pada hari Jumat dan Sabtu, 30 dan 31 Oktober 2026, di Ciputra Artpreneur, Jakarta. Informasi tiket belum dirilis secara resmi dalam materi yang tersedia, sehingga penonton disarankan untuk memantau kanal resmi penyelenggara untuk pembaruan terkini.
Pertunjukan ini layak menjadi prioritas tontonan akhir bulan ini. Gabungan ketegangan dramatis, kualitas akting para pemain, serta pesan kemanusiaan yang kuat membuat Nyonya Ati Soetji lebih dari sekadar hiburan. Ia mengajak penonton untuk memahami sosok perempuan berani yang memilih berdiri di sisi mereka yang tak punya suara—sebuah pesan yang sangat dibutuhkan di tengah era hiburan instan dan cepat.