Warga Surabaya mulai mempersiapkan diri menyambut datangnya musim hujan yang diperkirakan akan melanda pada Desember 2026. Untuk mengantisipasi potensi banjir, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya kini mempercepat pembangunan rumah pompa serta sejumlah infrastruktur pendukung lainnya yang berfungsi dalam pengendalian banjir.
Langkah strategis ini diambil sebagai respons terhadap perkiraan peningkatan curah hujan yang akan terjadi pada bulan Desember tahun depan. Pemkot menegaskan bahwa hingga akhir Oktober 2026, progres pengerjaan rumah pompa dan infrastruktur pendukung telah mencapai 90 persen.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menargetkan seluruh pekerjaan selesai pada pertengahan November 2026. Target ini penting agar fasilitas tersebut dapat langsung beroperasi saat curah hujan mulai meningkat.
Meski progres telah tinggi, masih terdapat satu pekerjaan krusial yang menjadi fokus utama: penyambungan pipa menuju sungai. Menurut Eri, koneksi ini harus diselesaikan lebih dulu agar rumah pompa dapat berfungsi secara optimal.
"Yang terpenting koneksinya diselesaikan terlebih dahulu, supaya rumah pompa bisa segera dioperasikan," ujar Eri Cahyadi, menekankan pentingnya penyelesaian tahap akhir ini untuk memastikan sistem pengelolaan air berjalan efektif.
Pemkot Surabaya berharap percepatan pembangunan ini dapat meningkatkan kapasitas penanganan genangan di sejumlah kawasan yang selama ini rentan terdampak banjir.
Beberapa wilayah yang menjadi perhatian utama karena memiliki riwayat banjir rutin setiap kali hujan turun meliputi Tanjungsari, Simokalangan, Simorejo, Margorejo, Nginden Jangkungan, dan Rungkut.
Eri menyebut bahwa beberapa kawasan ini telah menghadapi persoalan banjir secara berulang selama bertahun-tahun. Kondisi ini menunjukkan kebutuhan mendesak akan solusi permanen.
Penanganan banjir tidak hanya terfokus pada pembangunan rumah pompa, tetapi juga melibatkan pembenahan saluran air di kawasan perkampungan yang menjadi titik awal aliran air.
Eri menegaskan bahwa rumah pompa tidak akan berfungsi optimal jika saluran air di lingkungan warga tidak berjalan lancar. Kondisi ini menjadi kunci keberhasilan sistem pengendalian banjir secara keseluruhan.
Selain itu, Pemkot juga menangani laporan masyarakat mengenai jalan yang ambles setelah hujan turun. Upaya penanganan dilakukan melalui mekanisme swakelola bersama warga.
Pemkot menggandeng masyarakat secara aktif dalam pembenahan infrastruktur, terutama di area yang sulit dijangkau atau membutuhkan pendekatan lokal.
Untuk memastikan keterlaksanaan proyek, Eri Cahyadi menegaskan kepada kontraktor agar menyelesaikan pekerjaan sesuai tenggat waktu yang telah ditetapkan.
Jika terjadi keterlambatan, kontraktor dapat diberi peringatan sesuai ketentuan dalam kontrak. Jika batas waktu terlewat tanpa penyelesaian, pemerintah berhak mengambil langkah tegas seperti pemutusan kontrak.
Lebih lanjut, Pemkot juga mempertimbangkan sanksi berupa pencantuman nama kontraktor dalam daftar hitam (blacklist) sebagai bentuk teguran dan pencegahan terhadap pelanggaran serupa di masa depan.
Pemkot berharap seluruh pekerjaan infrastruktur dapat selesai tepat waktu, sehingga manfaatnya bisa segera dirasakan masyarakat secara langsung.
Target penyelesaian rumah pompa pada pertengahan November 2026 menjadi salah satu langkah kunci dalam upaya menghadapi peningkatan curah hujan yang diperkirakan terjadi pada Desember mendatang.
Proyek ini tidak hanya menyangkut pembangunan fisik, tetapi juga mencerminkan komitmen Pemkot Surabaya untuk meningkatkan ketahanan kota terhadap bencana alam akibat hujan deras.
Kerja sama antara pemerintah dan masyarakat menjadi fondasi utama dalam keberhasilan program ini, terutama di wilayah yang sebelumnya sulit diakses atau memiliki kondisi geografis kompleks.
Sejalan dengan itu, Pemkot juga memperhatikan aspek keberlanjutan, termasuk pemeliharaan infrastruktur pasca-pembangunan agar tidak kembali mengalami kerusakan setelah musim hujan berakhir.
Kesuksesan proyek ini diharapkan bisa menjadi model bagi daerah lain dalam penanganan banjir secara terintegrasi dan berkelanjutan.
Seluruh upaya yang dilakukan menunjukkan bahwa Pemkot Surabaya tidak hanya reaktif terhadap bencana, tetapi juga proaktif dalam membangun sistem mitigasi jangka panjang.