Kabar Gemerlap - Dalam survei terbaru oleh Asosiasi Psikolog Indonesia, 32% profesional di Jakarta mengakui mengalami gejala depresi dalam setahun terakhir. Namun, hanya 15% yang mencari bantuan. Fenomena ini memicu investigasi mendalam mengenai tanda-tanda depresi yang sering diabaikan oleh para pekerja.
Depresi bukan sekadar perasaan sedih sesaat atau akibat terlalu banyak pikiran. Kondisi ini merupakan gangguan kesehatan mental yang dapat memengaruhi suasana hati, pola tidur, nafsu makan, energi, hingga hubungan dengan orang lain. Namun, bagi profesional, dampaknya bisa lebih kompleks.
Menurut Dr. Rina Wijaya, psikolog klinis di Jakarta, depresi sering kali disamarkan oleh pekerja karena tekanan sosial. "Banyak yang merasa malu mengakui kelemahan, padahal ini bisa memperburuk kondisi," katanya.
Lantas, apa saja perubahan yang perlu diwaspadai? Berikut enam gejala yang bisa berkaitan dengan depresi, dengan fokus pada dampaknya terhadap profesional.
1. Merasa sedih terus-menerus
Dalam situs resmi Anxiety and Depression Association of America disebutkan, sering merasa sedih salah satu ciri utama depresi. Di beberapa kasus, perasaan sedih kerap disertai keinginan untuk bunuh diri. Mengalami perasaan gelisah dan rasa bersalah yang kerap menghantui pikiran juga menjadi ciri Anda tengah mengidap depresi. Untuk profesional, gejala ini bisa menghambat konsentrasi dan keputusan bisnis.
2. Tidur tidak nyenyak dan sulit istirahat
Kurang tidur atau justru terlalu banyak tidur, sama-sama berpotensi sebagai gejala depresi, seperti dilansir di situs resmi Mayo Clinic. National Institute of Mental Health mencatat, orang-orang yang mengalami depresi kerap terbangun di malam hari dengan pikiran yang kacau. Ada pula yang kemudian dapat melanjutkan tidurnya, namun tidak merasa nyenyak. Hal ini bisa menyebabkan penurunan performa di kantor.
3. Gairah seksual menurun
Hati-hati, depresi juga dapat mengganggu keharmonisan hubungan dengan pasangan. Huffington Post mencatat, kehilangan ketertarikan terhadap kegiatan sehari-hari, termasuk juga kehilangan antusiasme terhadap hobi, pasangan, hingga seks. Dampak ini bisa memengaruhi keseimbangan kerja-kehidupan pribadi.
4. Mudah lelah dan kurang motivasi
Orang-orang dengan depresi kerap merasa seolah mereka tidak memiliki tenaga untuk beraktivitas sehari-hari. Tubuh terasa lemah dan kurang motivasi. Jangankan melakukan aktivitas berat, menonton televisi saja mereka sulit untuk fokus. Ini bisa mengganggu produktivitas dan kinerja di tempat kerja.
5. Perubahan nafsu makan
Depresi dapat berpengaruh terhadap rasa lapar yang dirasakan seseorang. Terkadang depresi membuat nafsu makan meningkat, terkadang pula semakin merosot. National Alliance on Mental Illness melansir, perubahan nafsu makan dapat menyebabkan penurunan berat badan, sehingga di banyak kasus kerap ditemukan pasien depresi dengan tubuh kurus kering karena merasa tidak enak makan. Ini bisa memicu kekhawatiran tentang kesehatan fisik.
6. Gangguan fisik
Psikosomatis adalah kondisi dimana seseorang merasa sakit di bagian tubuh yang berawal dari stress. Contoh kasus psikosomatis yang banyak terjadi ialah mendadak sakit perut saat akan mengerjakan soal ujian atau menjelang interview kerja. Situs resmi National Institute of Mental Health mencatat, kondisi psikosomatis pada pasien depresi seringkali berupa sakit perut, pusing kepala, hingga dada terasa sesak. Ini bisa mengganggu kesehatan fisik dan memicu absensi kerja.
Kapan Sebaiknya Mencari Bantuan?
Enam tanda di atas dapat muncul pada orang yang mengalami depresi, tetapi tidak semua orang akan merasakan gejala yang sama. Gejala tersebut juga bisa berkaitan dengan kondisi kesehatan lain.
Secara umum, depresi perlu dicurigai ketika suasana hati yang buruk atau hilangnya minat terhadap aktivitas berlangsung hampir setiap hari selama setidaknya dua minggu, terutama jika disertai perubahan tidur, nafsu makan, energi, konsentrasi, atau munculnya perasaan tidak berharga.
Jika kamu atau orang terdekat mengalami perubahan tersebut, cobalah berbicara dengan orang yang dipercaya dan pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater.
Jangan menunggu sampai kondisi terasa semakin berat untuk mencari bantuan. Depresi merupakan kondisi yang bisa ditangani, dan mendapatkan pertolongan bukanlah tanda kelemahan.