Kabar Gemerlap - Serangan kelompok Houthi terhadap infrastruktur energi Arab Saudi pada Kamis (22/10) memicu kenaikan tajam harga minyak global. Harga Brent melonjak 4% dalam sehari, mencapai US$ 113,17 per barel, level tertinggi dalam lima bulan terakhir, sementara WTI naik 2,4% ke US$ 99,47 per barel.
Kenaikan harga ini mencerminkan ketakutan pasar terhadap gangguan pasokan dari Timur Tengah, terutama di tengah risiko eskalasi konflik yang melibatkan Iran. Analis Ritterbusch and Associates menyatakan bahwa premi risiko yang signifikan atas serangan Houthi serta potensi serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran menjadi faktor utama penggerak pasar.
Konteks geografis serangan juga memperparah situasi. Serangan terjadi di sekitar Bab el-Mandeb, jalur pelayaran strategis di Laut Merah yang menjadi urat nadi ekspor minyak global. Morgan Stanley memperkirakan ekspor minyak mentah dari Timur Tengah mencapai 17 juta barel per hari, hampir mencapai rata-rata tahunan sebelum konflik meningkat.
Kebijakan evakuasi kantor pusat Saudi Aramco di Dhahran menunjukkan seriusnya ancaman yang dihadapi. Sementara itu, perusahaan kilang AS Valero Energy mencatat laba kuartalan tertinggi sepanjang sejarah, mencerminkan dampak krisis energi terhadap industri hilir.
Kenaikan harga minyak tidak hanya memengaruhi pasar komoditas, tetapi juga akan berdampak pada biaya logistik, harga bahan bakar, dan ongkos produksi yang akhirnya dibebankan kepada konsumen global. Pertanyaannya kini adalah seberapa jauh eskalasi konflik di Timur Tengah akan berlanjut sebelum pasar kembali stabil.