LambeTurahNews - Dalam gelapnya malam di Pantai Boom Marina, ribuan penari bergerak serempak dengan kostum fosfor, mengubah pesisir Banyuwangi menjadi panggung pertunjukan kolosal. Inilah Gandrung Sewu 2026, sebuah perayaan budaya yang mencoba menyeimbangkan tradisi dengan inovasi.

Tidak hanya sekadar pertunjukan seni, Gandrung Sewu menjadi proyek besar yang melibatkan lebih dari 1.000 penari dan menggandeng teknologi cahaya modern. Namun, di balik konsep 'Kembang Dermo' ini, muncul pertanyaan: sejauh mana keberlanjutan tradisi tari Gandrung bisa dipertahankan?

Melalui konferensi pers resmi, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menegaskan bahwa perubahan waktu pertunjukan ke malam hari bukan sekadar gimmick. "Ini tentang memberikan pengalaman baru, tetapi tetap menjaga esensi tari Gandrung," katanya, mengakui tantangan dalam menarik generasi muda sambil mempertahankan identitas budaya Osing.

Data dari Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menunjukkan bahwa acara ini berpotensi meningkatkan kunjungan wisatawan hingga 30%, sekaligus menggerakkan sektor usaha kecil dan menengah. Namun, kritik dari sebagian pelaku seni tradisional mengatakan bahwa penggunaan efek visual berlebihan bisa mengaburkan makna filosofis tari Gandrung.

"Tradisi tidak bisa hanya dijadikan atraksi. Ada proses pembelajaran dan kehormatan terhadap leluhur yang harus dipertahankan," ujar seorang seniman lokal, yang mengingatkan bahwa regenerasi penari dan pelatihan budaya tetap menjadi prioritas.

Dengan 14 tahun penyelenggaraan, Gandrung Sewu kini berada di persimpangan antara pelestarian budaya dan kebutuhan ekonomi. Bagaimana Banyuwangi mempertahankan identitasnya sambil tetap menjadi destinasi wisata global? Jawabannya terletak dalam keseimbangan antara inovasi dan tradisi.