Setelah sebelumnya merilis pernyataan tertulis mengenai kontroversi kehadirannya dalam Deklarasi Sumpah Pemuda pada 29 Oktober 2026, Raffi Ahmad kembali angkat bicara melalui rekaman video yang dipublikasikan di akun media sosialnya pada Sabtu malam (31/10/2026).
Artis sekaligus Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni ini menyadari bahwa kehadirannya dalam sebuah acara kepemudaan berpotensi memicu berbagai reaksi dari publik.
Menyikapi hal tersebut, Raffi Ahmad menyampaikan permohonan maaf secara tegas, disertai penjelasan mendalam mengenai alasan dirinya hadir di lokasi deklarasi yang berlangsung di Bundaran Hotel Indonesia.
Ia menegaskan bahwa kehadirannya bukan bermaksud merendahkan perjuangan generasi muda atau merusak semangat Sumpah Pemuda, melainkan karena menerima undangan resmi dari pihak penyelenggara acara.
Raffi mengakui bahwa kehadirannya telah menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat, dan atas hal tersebut, ia menyampaikan permohonan maaf kepada semua pihak yang merasa terganggu atau kecewa dengan kehadirannya di lokasi deklarasi.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat malam, saya Raffi Ahmad. Sebagaimana telah dijelaskan oleh Polda Metro Jaya selaku penyelenggara acara, saya hadir sebagai undangan dalam kegiatan kepemudaan tersebut. Saya datang dengan niat yang tulus dan iktikad yang baik, tanpa niat merendahkan, apalagi mencederai semangat perjuangan generasi muda," kata Raffi dalam pernyataannya.
Raffi mengungkapkan bahwa selama ini dirinya memang memiliki kebiasaan menerima undangan dari berbagai pihak, meskipun hanya memiliki waktu singkat untuk hadir dalam sebuah acara.
Menurutnya, kebiasaan ini telah dilakukannya sejak lama sebagai bentuk penghargaan terhadap setiap pihak yang mengundangnya, dengan tetap meluangkan waktu secara langsung.
"Sudah menjadi kebiasaan dari sejak dulu, di setiap ada undangan, siapapun yang mengundang saya, insyaallah saya selalu mengupayakan untuk hadir walaupun sebentar," ujarnya.
Namun, pengalaman menghadiri deklarasi tersebut menjadi bahan evaluasi penting bagi Raffi. Ia menyadari bahwa niat baik saja tidak cukup jika seseorang memutuskan untuk hadir dalam suatu kegiatan publik.
Baginya, setiap undangan harus dipahami secara mendalam agar kehadiran tidak menimbulkan kesalahpahaman atau polemik di masa depan.
"Saya mohon maaf dari hati saya atas kegaduhan yang timbul dari kehadiran saya. Saya sangat memahami bahwa niat baik tetap perlu disertai ketelitian pada setiap kegiatan yang akan dihadiri," tuturnya.
Ia juga mengakui bahwa peristiwa ini menjadi pengingat penting untuk tidak hanya mengandalkan niat baik, tetapi juga memastikan informasi sebelumnya terkait kegiatan yang akan dihadiri benar-benar akurat dan jelas.
Sejak lama, Raffi kerap menekankan pentingnya masyarakat untuk tidak mudah menyebarkan informasi yang belum terverifikasi kebenarannya.
Ia juga secara konsisten mengajak publik menjauhi ujaran kebencian, caci maki, serta fitnah dalam berinteraksi di ruang publik.
Raffi berharap pengalaman pribadinya ini dapat menjadi pelajaran bagi dirinya sendiri, agar lebih cermat dan selektif dalam mengambil keputusan di masa mendatang.
Selain permohonan maaf, Raffi juga menanggapi kritik yang muncul pasca-kehadirannya di deklarasi tersebut.
Ia menyatakan menghargai setiap suara dari masyarakat yang menyampaikan pendapat, kritik, atau saran terkait kehadirannya.
"Saya menghargai setiap orang yang menyampaikan aspirasinya, kritiknya, dengan pandangannya, sarannya, semuanya saya hargai, karena saya sangat meyakini bahwa setiap orang memiliki cara untuk berkontribusi dan memberikan apapun yang terbaik dengan cara masing-masing untuk bangsa dan negara," kata Raffi.
Baginya, setiap individu memiliki cara berbeda dalam memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara, dan perbedaan pandangan seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling menyerang.
Raffi menilai bahwa kritik yang disampaikan dengan cara yang baik dapat menjadi bahan pembenahan diri dan pembelajaran bersama.
Karena itu, ia menyampaikan terima kasih kepada masyarakat yang telah memberikan perhatian terhadap isu ini.
"Terima kasih sekali lagi atas perhatian, kritik, dan masukan yang diberikan. Semuanya ini pastinya menjadi pembelajaran bagi saya untuk terus memperbaiki diri," ujarnya.
Raffi berharap penjelasan yang disampaikannya dapat membantu masyarakat memahami konteks sebenarnya dari kejadian tersebut.
Ia menegaskan bahwa kejadian ini bukan hanya menjadi evaluasi bagi dirinya, tetapi juga bagi seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan acara.
Kepolisian Daerah Metro Jaya mengonfirmasi bahwa Raffi Ahmad hadir dalam acara Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026 sebagai tamu undangan resmi. Penjelasan ini disampaikan oleh Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, yang menegaskan bahwa kehadiran Raffi bukan berasal dari inisiatif pribadi, melainkan atas undangan langsung dari pihak kepolisian sebagai penyelenggara acara. Hal serupa juga berlaku bagi kreator konten ternama, Willie Salim, yang turut hadir dalam perhelatan tersebut.
Menurut Budi Hermanto, kedua tokoh publik tersebut tidak secara mandiri memilih untuk ambil bagian dalam kegiatan tanpa koordinasi dengan panitia. Kehadiran mereka dipastikan telah melalui prosedur formal dan disetujui oleh pihak penyelenggara, sehingga tidak ada pelanggaran terhadap mekanisme acara. Dengan demikian, kehadiran Raffi Ahmad dan Willie Salim dianggap sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Meskipun demikian, Polda Metro Jaya mengakui bahwa setelah acara berakhir, muncul kontroversi dan kegaduhan di publik. Hal ini menimbulkan berbagai spekulasi dan kritik terhadap peran serta tokoh-tokoh publik dalam acara yang diklaim sebagai ajang pemuda nasional. Pihak kepolisian menyadari dampak sosial dari kehadiran figur-figur seperti Raffi Ahmad, terlepas dari legalitas undangan yang telah diberikan.
Sebagai respons atas reaksi publik, Polda Metro Jaya secara resmi menyampaikan permohonan maaf. Mereka menegaskan bahwa kepolisian terbuka terhadap kritik dan masukan dari masyarakat. Permintaan maaf ini bukan hanya bentuk penyesalan atas ketidaknyamanan yang timbul, tetapi juga sebagai bagian dari proses evaluasi internal untuk perbaikan di masa depan.
Kepolisian menekankan bahwa kehadiran tokoh publik dalam acara resmi harus dipahami dalam konteks kerja sama dan koordinasi dengan pihak penyelenggara. Mereka menyatakan siap menerima masukan untuk meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan kredibilitas dalam penyelenggaraan kegiatan publik di masa mendatang. "Saya berharap penjelasan yang telah disampaikan dapat membantu memperjelas situasi yang sebenarnya terjadi, sekaligus ini menjadi bahan pembelajaran dan evaluasi bagi semua pihak, termasuk saya. Salam sehat untuk kita semua."