Kebakaran yang menghanguskan Pasar Taman Puring pada 28 Juli 2025 memicu rencana revitalisasi kawasan menjadi ruang terbuka hijau (RTH) yang ramah penyandang disabilitas. Namun, langkah ini memunculkan pertanyaan tentang masa depan ribuan pedagang yang terdampak.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengakui bahwa Pemprov sedang membahas lokasi penampungan sementara untuk pedagang. “Kita harus carikan tempat agar mereka tetap bisa berdagang,” katanya dalam wawancara eksklusif dengan Kabar Gemerlap di GMAHK Taman Harapan, Jakarta.

“Revitalisasi Taman Puring harus menjadi taman inklusif, karena Jakarta belum punya taman disabilitas,” tegas Pramono.

Sebelum kebakaran, pasar ini menampung lebih dari 500 pedagang. Saat ini, hanya sekitar 180 pedagang yang masih bertahan, sementara ratusan lainnya belum bisa kembali berjualan karena kerugian modal dan stok barang.

Koordinator Pedagang Lapak Taman Puring, Asmun, mengkritik ketidakjelasan relokasi yang disampaikan pemerintah. “Saat audiensi dengan wali kota, lokasi relokasi tidak disebutkan. Kami baru tahu dari media sosial bahwa ada rencana ke Lenteng Agung,” ujarnya.

“Jika dipindahkan, kami harus membangun basis pelanggan dari nol. Ini sangat berat di tengah kondisi ekonomi yang sulit,” tambahnya.

Revitalisasi Taman Puring juga mencakup rencana pembangunan Microlibrary Taman Puring, yang didanai oleh Ammodo Foundation. Proyek ini melibatkan Pemprov DKI, Dinas Pertamanan DKI, dan PT SHAU Architects.

Seiring itu, Dinas PPKUKM DKI sedang melakukan pendataan pedagang untuk penempatan sementara. Namun, para pedagang menuntut lokasi penampungan yang dekat dengan Pasar Taman Puring agar pelanggan tetap bisa dijaga.

Pemprov DKI menegaskan komitmen untuk memastikan keberlangsungan usaha pedagang. Namun, para pedagang tetap khawatir bahwa relokasi justru akan memperparah krisis ekonomi mereka.