LambeTurahNews - Berapa banyak dari kita yang kenal nama Auw Tjoei Lan? Kalau jawabannya nyaris tidak ada, kamu tidak sendirian. Perempuan Tionghoa-Indonesia yang dikenal sebagai Njonja Ati Soetji ini dulu mendedikasikan hidupnya untuk menolong perempuan dan anak korban perdagangan manusia di masa kolonial. Kini kisahnya diangkat ke panggung teater lewat pertunjukan bertajuk Njonja Ati Soetji, yang digelar pada 30-31 Oktober 2026 di Ciputra Artpreneur, Jakarta.

Tokoh Besar yang Namanya Jarang Terdengar

Auw Tjoei Lan juga dikenal sebagai Nyonya Kapitein Lie Tjian Tjoen. Menurut catatan yang beredar di Wikipedia dan KAPAL Perempuan, ia lahir di Majalengka pada 1889 dari keluarga terpandang, lalu pindah ke Batavia setelah menikah dengan seorang perwira Tionghoa. Di sana ia terlibat dalam gerakan Ati Soetji (kerap pula ditulis Hati Suci), organisasi yang berjuang menolong perempuan dan anak, terutama perempuan muda Tionghoa yang diperdagangkan.

Catatan sejarah itu menyebut para korban sering berasal dari keluarga miskin. Mereka dijanjikan pekerjaan, tetapi akhirnya dijerumuskan ke rumah bordil. Dalam perjuangannya, Auw Tjoei Lan dikabarkan menghadapi ancaman dari pihak-pihak yang bisnisnya terganggu, bahkan menelusuri pelabuhan pada malam hari untuk mencari perempuan yang butuh pertolongan. Ia juga mendirikan panti asuhan dan membekali para korban dengan keterampilan agar bisa mandiri.

Pada 1937, ia disebut mewakili Hindia Belanda dalam pertemuan Liga Bangsa-Bangsa di Bandung dan menyuarakan pendidikan bagi perempuan miskin. Organisasi yang dirintisnya kini berlanjut sebagai Yayasan Hati Suci, yang masih beroperasi hingga hari ini. Sumber-sumber ini memang belum seragam soal sejumlah detail, misalnya ejaan nama organisasi, sehingga sebagian rincian sebaiknya dibaca sebagai catatan sejarah yang masih perlu diperkaya.

Dari Panti Asuhan ke Yayasan yang Bertahan hingga Kini

Perjuangan itu tidak berhenti di penyelamatan korban. Menurut catatan KAPAL Perempuan, panti asuhan yang ia dirikan merawat anak-anak Tionghoa maupun anak lokal, memberi makan, pendidikan, dan pengasuhan. Panti ini kemudian berkembang menjadi Yayasan Hati Suci yang mengelola sekolah dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas.

Wikipedia mencatat bahwa rumah singgah untuk anak perempuan pertama kali dibuka pada 1917, disusul rumah untuk anak laki-laki pada 1925. Pada masa pendudukan Jepang, ia disebut tetap berusaha melindungi anak-anak yang terlantar. Ia juga mengembangkan program pelatihan keterampilan untuk korban trafficking, yang masih menjadi dasar operasional Yayasan Hati Suci saat ini.

Investigasi: Bagaimana Kisah Ini Dibangkitkan?

Regina Art, produser pertunjukan, mengungkapkan bahwa proses penelitian untuk mengangkat kisah Auw Tjoei Lan memakan waktu hampir dua tahun. Mereka mengumpulkan data dari arsip sejarah, wawancara dengan keturunan tokoh terkait, dan studi kasus tentang gerakan anti-trafficking di era kolonial.

"Kami menemukan banyak catatan yang hilang dari sejarah resmi. Tantangan terbesar adalah memastikan akurasi narasi tanpa mengorbankan kekuatan dramatis cerita," ujar produser Regina Art dalam wawancara eksklusif.

Menurut Wenny, direktur Yayasan Hati Suci, pertunjukan ini adalah upaya untuk memperbaiki kesenjangan sejarah. "Auw Tjoei Lan adalah tokoh penting dalam pergerakan anti-trafficking, namun namanya jarang disebut di buku pelajaran. Kami ingin memastikan kisahnya tidak terlupakan," tambahnya.

Pelajaran dari Karakter Antagonis

Maudy Koesnaedi, yang memerankan tokoh antagonis dalam pertunjukan, mengungkapkan bahwa karakter yang dimainkannya mengajak penonton melihat persoalan moral dari berbagai sisi. "Karakter ini bukan hanya penjahat, tapi juga manusia yang memiliki alasan untuk bertindak. Ini membuat penonton lebih memahami kompleksitas masalah trafficking," jelasnya.

Willem Bevers dan Adegan Interogasi yang Intens

Willem Bevers, yang memerankan pejabat kolonial Van Walsem, mengungkapkan bahwa salah satu adegan yang paling menantang adalah interogasi yang menggambarkan konflik antara kekuasaan kolonial dan perjuangan lokal. "Adegan ini menggambarkan bagaimana kekuasaan menggunakan kekerasan untuk memadamkan perlawanan, tetapi juga menunjukkan keberanian tokoh lokal dalam melawan," katanya.

Deretan Pemain dan Tim di Balik Layar

Selain Maudy Koesnaedi dan Willem Bevers, pementasan ini menghadirkan Tika Bravani sebagai Noona Kneefel. Aktor lain yang terlibat adalah Lutfi Ardiansyah sebagai Jirrin, Chloe Gerry sebagai Suyun, Jim Lim sebagai Seng Hoe, Haikal Mubarok sebagai Tuan Lie, Andri Surawan sebagai Buron, serta Andi Solohin sebagai Jagal.

Joane Win bertindak sebagai produser eksekutif sekaligus ikut bermain sebagai Nyonya Lie. Naskah ditulis Endah D. Jenura, sementara Wawan Sofwan duduk di kursi sutradara.

Kenapa Pertunjukan Ini Layak Ditonton

Njonja Ati Soetji menawarkan lebih dari sekadar drama sejarah. Ada kisah perempuan yang berani melawan perdagangan manusia di zaman ketika isu itu jarang dibicarakan, ada pelajaran moral dari sisi antagonis, dan ada kesempatan melihat deretan aktor ternama tampil di panggung. Lewat pertunjukan ini, nilai-nilai kemanusiaan yang diwariskan Auw Tjoei Lan diharapkan bisa sampai ke generasi masa kini.

Jadi, kalau akhir Oktober ini kamu mencari tontonan yang bukan hanya menghibur tetapi juga membuka mata soal sejarah, panggung Ciputra Artpreneur pada 30-31 Oktober bisa jadi pilihan.