Kabar Gemerlap - Perayaan Hari Batik Nasional di Hotel Fairmont, Jakarta Pusat, menjadi wadah strategis untuk mengeksplorasi keterkaitan antara pelestarian budaya dan pemberdayaan ekonomi. Kolaborasi antara Batik Keris dan PPLIPI dalam acara bertajuk "Cinta Batik, Cinta UMKM" menggambarkan upaya nyata untuk menjadikan batik sebagai simbol yang tetap relevan dalam konteks modern, sekaligus menjadi penggerak ekonomi kerakyatan.
Batik Keris, yang kini dikelola generasi keenam keluarga pengusaha tekstil, meluncurkan koleksi eksklusif "Rona Rempah" yang menggambarkan kekayaan rempah Nusantara. Koleksi ini tidak hanya menunjukkan evolusi desain batik, tetapi juga menegaskan bahwa estetika lokal mampu beradaptasi dengan tren global tanpa mengorbankan akar budaya.
Pameran yang diselenggarakan menampilkan proses pembuatan batik dari berbagai daerah, termasuk teknik tulis dan cap, serta penggunaan bahan alami dan sintetis. Eksibisi ini menjadi media edukasi penting, mengingat pengakuan UNESCO terhadap batik sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak 2009.
Komitmen sosial dalam acara ini terwujud melalui lelang amal yang melibatkan enam desainer ternama, seperti Denny Wirawan dan Ivan Gunawan. Dana dari lelang dan penjualan produk Batik Keris akan dialokasikan untuk memperkuat permodalan UMKM di bawah binaan PPLIPI, organisasi yang telah beroperasi sejak 2016 dan memiliki jaringan di 14 provinsi.
Menurut CEO Batik Keris, Lina Kusyanto Handianto, kolaborasi ini menunjukkan bahwa perayaan budaya dapat menjadi penggerak ekonomi inklusif. Sementara Ketua PPLIPI, Dra. Hj. Indah Suryadharma Ali, MBA, menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor dalam membangun kemandirian ekonomi perempuan.
Akhirnya, perayaan ini tidak hanya menjadi ajang seremoni tahunan, tetapi juga membuktikan bahwa pelestarian tradisi dapat berjalan beriringan dengan inisiatif sosial yang berdampak nyata pada masyarakat.