Kabar Gemerlap - Dalam wawancara eksklusif dengan Kabar Gemerlap, Sarwendah membongkar dinamika perselisihan dengan Ruben Onsu, yang kini memicu perdebatan di kalangan masyarakat profesional dan pengamat media sosial. Ia menyoroti bagaimana konflik pribadi sering kali dijadikan bahan konsumsi publik tanpa mempertimbangkan dampak psikologis terhadap anak-anak.
"Bukan hanya soal keadilan, tapi juga pertanyaan tentang batasan privasi dan perlindungan anak," kata Sarwendah, mengkritik pola konsumsi informasi di era digital.
"Saya sering berpikir, apakah perempuan hanya dihargai jika selalu tenang?" tanyanya, mengaitkan konflik ini dengan stereotip gender yang masih menghantui masyarakat.
Dalam investigasi ini, Kabar Gemerlap menemukan bahwa 72% warga yang diwawancarai mengakui merasa terpengaruh oleh narasi yang muncul di media sosial. Sarwendah meminta publik untuk "melihat kebenaran di balik dramatisasi" yang sering kali dibuat oleh pihak-pihak terlibat.
Dampak Psikologis pada Anak
"Anak-anak adalah korban tak bersalah dalam konflik ini," tegas Sarwendah, mengungkapkan kekhawatiran tentang penyebaran konten negatif yang bisa mengganggu perkembangan psikologis anak.
"Saya melihat banyak video yang sengaja dibuat untuk memicu emosi publik, padahal anak-anak tidak tahu apa-apa," katanya.
Investigasi Kabar Gemerlap juga menemukan bahwa 45% netizen mengakui merasa "tertarik" untuk mengikuti perkembangan konflik ini, meski sebagian besar tidak memiliki hubungan langsung dengan pihak terlibat.