Kabar Gemerlap - Denda Rp60 juta yang dijatuhkan Komite Disiplin (Komdis) PSSI terhadap Persebaya Surabaya akibat insiden penyalaan petasan di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) pada 18 Oktober 2026, kembali mengungkit konflik antara klub dan suporter. Presiden Persebaya, Azrul Ananda, menyebut sanksi ini sebagai cerminan dari kerugian finansial yang telah menggerus klub sejak 2017, mencapai angka fantastis Rp20 miliar.

Insiden tersebut terjadi saat Persebaya menjamu PSS Sleman, di mana asap dan ledakan petasan sempat mengganggu jalannya pertandingan. Sanksi ini bukan pertama kalinya menghantam klub, yang sebelumnya juga terkena denda karena insiden serupa. Manajemen menyebut kerugian akibat sanksi, hilangnya pendapatan tiket, dan biaya renovasi stadion telah memperlambat transformasi Persebaya menjadi tim profesional.

"Kerugian ini tidak hanya terbatas pada denda, tetapi juga hilangnya peluang pendapatan dari penonton, serta biaya perbaikan fasilitas yang rusak," ujar Azrul Ananda dalam pernyataan resmi. Ia menyoroti bahwa denda minimal untuk penyalaan flare saja mencapai Rp50 juta, setara dengan biaya operasional panti asuhan selama empat bulan.

Kerugian Rp20 Miliar: Sejarah yang Tidak Terlupakan

Penelusuran lebih lanjut mengungkap bahwa dalam sembilan tahun terakhir, Persebaya telah menelan kerugian sebesar Rp20 miliar. Angka ini terdiri dari sanksi denda dari Komdis, kerugian akibat laga usiran tanpa penonton, dan biaya perbaikan stadion yang kerap dirusak.

Manajemen menegaskan bahwa mereka tidak akan diam menghadapi ulah oknum suporter yang merusak reputasi klub. "Kita harus membangun simbiosis sehat antara klub dan suporter, bukan membiarkan tindakan destruktif menghambat perkembangan klub," tegas Azrul.

Peringatan untuk Bonek: Denda Sebagai Tamparan

Azrul membandingkan besarnya denda dengan biaya operasional panti asuhan, menyoroti mubazirnya uang untuk kesenangan sesaat. "Uang sebesar itu bisa digunakan untuk hal positif, bukan hanya jadi beban finansial klub," ujarnya.

Manajemen kini berharap sanksi ini menjadi titik balik bagi para suporter. "Keselamatan finansial klub kini ada di tangan Bonek. Cinta pada Persebaya harus diwujudkan melalui dukungan di tribun, bukan dengan api yang membakar masa depan klub," pungkas Azrul.

Ujian kedewasaan bagi Bonek akan teruji pada laga-laga mendatang, di mana dukungan murni suporter menjadi kunci untuk mengantarkan Persebaya ke puncak klasemen.