Terbang pertama kali bersama bayi tanpa pendamping memang bisa membuat jantung berdebar kencang. Bagi seorang ibu pada 28 Oktober lalu, rasa cemas itu muncul begitu saja saat menaiki pesawat Garuda tujuan Timika dengan transit di Denpasar. Suaminya tidak ikut karena tiketnya disediakan perusahaan dan jadwal penerbangan berbeda, sehingga ia harus menghadapi perjalanan sendiri dengan bayi yang masih sangat kecil.

Keadaan semakin menegangkan saat ia memasuki kabin dengan banyak barang bawaan. Ia sempat meletakkan tas dan perlengkapan bayi di kursi tanpa pikir panjang, karena terburu-buru dan lelah. Di tengah ketidaknyamanan itu, seseorang yang duduk tak jauh darinya melihat situasinya dan tanpa diminta langsung membantu menaikkan barang ke bagasi kabin.

Ketika melihat tindakan tersebut, sang ibu sempat terkejut. "Ehh siapa yak, kayak Bang Arap," tulisnya mengenang pikirannya saat itu, merasa bingung apakah orang yang membantunya benar-benar seseorang yang dikenal luas. Ia lalu berani bertanya, dan jawabannya datang dengan santai: “Ohh haha iya.”

Setelah konfirmasi, mereka sempat mengobrol singkat. Obrolan ringan itu membuat suasana lebih tenang. Ia bahkan sempat meminta foto bersama sebagai kenangan dari momen tak terduga tersebut.

Momen paling menegangkan datang menjelang pesawat mendarat di Denpasar. Bayinya tiba-tiba menangis keras, kemungkinan karena tekanan udara saat turun membuat telinganya tidak nyaman. Perubahan atmosfer di kabin memang sering menyebabkan ketidaknyamanan pada bayi, terutama yang belum bisa menyesuaikan diri.

Sang ibu mencoba segala cara untuk menenangkan: memberi susu, memakai earmuff, bahkan menggoyangkan bayinya. Namun tangisan tak kunjung reda. Ia mulai panik, dan ikut menangis karena merasa tidak mampu mengatasi situasi.

Yang mengejutkan, Reza Arap tetap berada di sampingnya. Ia tidak menjauh meski banyak penumpang lain yang mungkin terganggu. Ia justru menenangkan sang ibu dengan kata-kata positif, mengajak bayi bermain, dan mencoba memberi rasa nyaman meski sempat ikut merasa cemas.

Perlahan-lahan, tangisan bayi mulai mereda. Setelah beberapa saat, bayi pun mau minum susu dan akhirnya tertidur pulas. Sang ibu mengaku lega, bahkan merasa seperti diselamatkan dari kepanikan yang hampir menguasai dirinya.

Sebelum pesawat mendarat, Reza Arap menyampaikan sesuatu yang mengejutkan. Ia mengungkapkan bahwa ia telah memesan dua kursi tambahan di dekat tempat duduknya, sehingga seluruh baris 21A hingga 21C kosong—khusus untuk ibu dan bayinya.

Menurut pengunggah, ia berkata, "Kak, kursi A dan B ini sudah aku pesan untuk kakak dan baby biar nyaman juga di sini. Lebih baik duduk di seat A biar bisa tiduran juga.". Dengan begitu, ibu dan bayi bisa menempati ruang yang lebih luas dan nyaman tanpa harus khawatir terganggu oleh penumpang lain.

Sang ibu akhirnya pindah ke kursi 21A. Reza Arap juga menyampaikan pesan kepada pramugari agar membantu mengawasi dan menjamin kenyamanan ibu dan bayinya selama sisa perjalanan.

Ketika tiba di Denpasar, bantuan tetap berlanjut. Pramugari yang telah diberi tahu oleh Reza Arap terus memastikan sang ibu mendapat dukungan, termasuk saat turun dari pesawat dan melanjutkan perjalanan ke tujuan akhir.

Insight kecil dari kisah ini terletak pada cara berurutannya. Tidak ada aksi dramatis atau heroik yang dibuat-buat. Yang ada hanyalah empat langkah sederhana yang saling mendukung: membantu mengangkat barang, menenangkan bayi saat menangis, menyediakan ruang khusus, dan memastikan ada yang menjaga.

Semua itu terjadi di dalam pesawat yang penuh penumpang biasa—orang-orang yang mungkin juga sedang lelah atau ingin tenang. Namun, Reza Arap justru memilih untuk meluangkan waktu dan perhatian tanpa diminta.

Sang ibu menutup ceritanya dengan permohonan maaf kepada penumpang lain yang mungkin terganggu oleh tangisan bayinya, serta doa untuk Reza Arap. "Semoga kebaikanmu selalu dibalas oleh Tuhan," tulisnya, menyadari betapa berharganya kebaikan sederhana dalam situasi yang sulit.

Utas pertamanya di Threads langsung disukai lebih dari 70 ribu kali dalam sehari dan dibagikan ulang ribuan kali. Cerita ini menjadi viral karena menggambarkan kebaikan nyata yang tidak perlu dipamerkan, tetapi justru terasa sangat manusiawi.