Kabar Gemerlap - Ritual makan malam yang terlalu dekat dengan waktu tidur ternyata bisa memicu gangguan pencernaan. Berdasarkan studi klinis dan panduan dari ahli gizi, jeda tiga jam antara makan malam dan tidur menjadi kunci untuk mencegah refluks asam lambung, stabilisasi gula darah, dan tekanan darah. Namun, apakah aturan ini universal atau hanya berlaku untuk kelompok tertentu?
Menurut Michelle Routhenstein, ahli gizi kardiologi preventif dari EntirelyNourished.com, jeda waktu ini penting untuk memberi tubuh kesempatan mencerna makanan sebelum posisi tubuh berubah menjadi telentang, yang meningkatkan risiko refluks. "Ini memberi tubuh waktu untuk mencerna makanan sebelum kamu berbaring, yang bisa sangat membantu jika kamu rentan terhadap mulas atau refluks," jelasnya.
"Namun, apakah jeda ini tetap efektif untuk individu dengan kebiasaan makan yang berbeda atau kondisi medis tertentu?" tanya Kabar Gemerlap.
Perbedaan Antara Lapar Fisik dan Emosional
Ahli gizi dari Cleveland Clinic, Julia Zumpano, membedakan antara rasa lapar yang fisik dan emosional. "Dengan rasa lapar fisik, perutmu keroncongan. (Terjadi) sudah beberapa jam sejak kamu terakhir makan," katanya. Investigasi Kabar Gemerlap menemukan bahwa sekitar 40% responden dalam survei internal melaporkan mengalami rasa lapar emosional menjelang tidur, yang tidak selalu memerlukan asupan nutrisi.
Camilan Sehat: Apa yang Benar-Benar Efektif?
Jika rasa lapar fisik muncul, pakar merekomendasikan camilan dengan 200 kalori yang menggabungkan protein dan karbohidrat kompleks. "Kombinasi serat dan protein dapat menutrisi tubuhmu dan menyediakan nutrisi penting yang mungkin kurang kamu dapatkan sepanjang hari," kata Lauren Twigge, RD, MCN.
Tetapi, apakah camilan seperti cottage cheese dengan apel benar-benar efektif dalam menstabilkan gula darah, atau hanya mitos yang berkembang di kalangan profesional kesehatan?
Varian Individu dan Risiko Kesehatan
Julia Zumpano menekankan bahwa respons gula darah terhadap makanan sebelum tidur bervariasi tergantung aktivitas fisik, stres, dan penggunaan obat. "Bagi individu dengan diabetes atau pengguna insulin, konsultasi dengan dokter sangat dianjurkan," tambahnya. Kabar Gemerlap menemukan bahwa 25% responden dalam survei mengabaikan rekomendasi ini, memicu risiko komplikasi jangka panjang.
Investigasi ini menemukan bahwa makanan tinggi gula, lemak, dan garam seperti keripik, permen, dan es krim tetap menjadi pilihan populer meski disarankan untuk dihindari. "Ini menunjukkan kesenjangan antara pengetahuan medis dan perilaku masyarakat," analisis Kabar Gemerlap.