Kabar Gemerlap - Di tengah tekanan psikologis yang menghantui setelah kekalahan di babak 32 besar sektor tunggal, Janice Tjen dan Storm Hunter membuktikan ketangguhan mental mereka dalam pertandingan perempat final WTA 250 Japan Open 2026. Duel sengit melawan Ya-Hsin Lee/Fang-Hsien Wu di Utsubo Tennis Center tidak hanya menjadi ujian teknik, tetapi juga pengukur ketahanan mental dua petenis ini.
Pertandingan yang berlangsung pada Rabu (21/10/2026) ini mengungkap dinamika unik. Set pertama yang dimenangkan Lee/Wu dengan skor 4-6 mengisyaratkan kekhawatiran, terutama setelah Janice sebelumnya kalah dari Ashlyn Krueger di sektor tunggal. Namun, analisis statistik menunjukkan bahwa kemenangan Lee/Wu didorong oleh 43 unforced errors, sementara Janice/Hunter hanya membuat 28 kesalahan.
"Tekanan sebagai unggulan pertama di sektor ganda membuat kami terjebak di set pertama," ujar Janice dalam wawancara eksklusif usai pertandingan. "Tapi komunikasi dengan Storm menjadi kunci. Kami sepakat untuk tidak menganggap kekalahan sebelumnya sebagai beban, tetapi sebagai motivasi."
Strategi yang diadopsi Janice/Hunter terbukti efektif. Mereka memperbaiki penempatan servis, meningkatkan konsistensi di baseline, dan memanfaatkan kelemahan Lee/Wu dalam reli panjang. Dominasi servis yang terlihat dari dua ace bersih dan satu double fault menunjukkan peningkatan kualitas permainan mereka.
Dalam super tie-break, Janice/Hunter menunjukkan ketenangan luar biasa. "Kami tidak pernah berpikir tentang hasil akhir. Kami hanya fokus pada poin berikutnya," tambah Storm Hunter. Kemenangan 10-6 di super tie-break menegaskan bahwa duo ini mampu mengubah kekalahan menjadi pelajaran.
Kemenangan ini memperkuat tren Janice/Hunter di Asian Swing 2026, yang sebelumnya menang telak 6-2, 6-2 atas Ingrid Martins/Sara Sorribes Tormo di babak pertama. Bagi Indonesia, kinerja Janice menjadi bukti bahwa petenis nasional mampu bersaing di level tertinggi WTA.
Di babak semifinal, Janice/Hunter akan menghadapi pemenang antara Ingrid Neel/Giuliana Olmos dan Isabelle Haverlag/Lilli Tagger. Meski tekanan masih menghiasi, Janice sudah menegaskan komitmen: "Kami tidak akan mundur sejengkal pun. Ini bukan hanya untuk trofi, tapi untuk membuktikan bahwa Indonesia bisa bersaing di level tertinggi."