Kabar Gemerlap - Insiden unik terjadi di Jakarta Running Festival (JRF) 2026, ketika seorang pelari menerobos pagar pembatas Cut Off Point (COP) dan menuntut kompensasi dari panitia. Perilaku tersebut memicu perdebatan yang direspons oleh dokter Tirta, yang menyoroti pentingnya kesadaran aturan sebelum pendaftaran.

Dalam video yang viral di media sosial, Tirta mengkritik keluhan pelari yang mengaku terlambat memulai lomba karena ditempatkan di corral 8. Ia menegaskan bahwa aturan COP dan Cut Off Time (COT) telah disosialisasikan melalui akun Instagram JRF sejak lama.

"Kamu harusnya baca dulu peraturannya, JRF sudah membuat edukasi dari tiga tahun lalu, apa bedanya COP dan COT di Instagram," tegas Tirta. Ia menjelaskan bahwa penghitungan waktu perlombaan (gun time) dimulai dari tanda start resmi, bukan dari waktu pelari melintasi garis start sesuai posisi corral.

Menurut Tirta, sistem corral yang disusun berdasarkan kategori kemampuan pelari bertujuan untuk menjamin keadilan dan efisiensi dalam pengelolaan peserta yang jumlahnya besar. Keterlambatan pelari di corral belakang tidak memengaruhi penghitungan waktu resmi.

Ia juga membandingkan aturan JRF dengan penyelenggaraan maraton internasional, seperti di Tokyo, yang memiliki batas waktu (COT) ketat. "Di luar negeri di Tokyo juga seperti itu, bahkan lebih kejam. Disapu nganggo bis," ujarnya.

Tirta menyarankan pelari yang tidak setuju dengan aturan untuk memilih event lain. "Kalau kalian memang enggak mau ribet ya pilih event-event lain, enggak mau diatur ya lari sendiri," katanya.