Kabar Gemerlap - Perayaan Hari Jadi Kabupaten Bangkalan ke-495 pada 24 Oktober 2026 bukan sekadar momentum seremonial, melainkan ajang investigasi mendalam tentang keberlanjutan warisan budaya Madura di era modern. Dalam wawancara eksklusif dengan RRI, Bupati Lukman Hakim mengungkap tantangan utama: mempertahankan identitas lokal tanpa menghambat pertumbuhan ekonomi.

Jejak sejarah yang menghubungkan masyarakat Bangkalan dengan Raden Pratanu, tokoh sentral dalam pembentukan kerajaan Plakaran, kembali menjadi fokus utama. Namun, investigasi lebih lanjut mengungkap ketimpangan antara upaya pelestarian dan realitas di lapangan.

Di kawasan Arosbaya, situs bersejarah seperti Kidemung Plakaran dan Pesarean Makam Agung terancam oleh pengembangan infrastruktur. Meski pemerintah menyelenggarakan ziarah makam leluhur sebagai bagian dari peringatan, kritik dari sejumlah ahli sejarah menyebut kegiatan tersebut lebih simbolis daripada solutif.

"Kita perlu pendekatan holistik," kata Dr. Suryadi, arkeolog dari Universitas Negeri Surabaya. "Pelestarian sejarah tidak bisa dipisahkan dari kebijakan pembangunan. Arosbaya, sebagai pusat kekuasaan Raden Pratanu, memerlukan perlindungan khusus."

Dalam tema perayaan "Bangkalan Ramah Investasi, Aman dan Berbudaya," pemerintah berkomitmen menggabungkan tradisi dengan modernisasi. Namun, investigasi Kabar Gemerlap menemukan ketergantungan berlebihan pada proyek infrastruktur yang berpotensi mengorbankan situs bersejarah.

Kesadaran akan pentingnya warisan budaya terlihat dari inisiatif seperti festival seni tradisional dan pelatihan kerajinan Madura. Namun, tantangan utama tetap ada: bagaimana memastikan generasi muda tidak kehilangan akar budaya sambil tetap bersaing di pasar global.

"Merawat sejarah bukan hanya tentang mengenang masa lalu," tambah Bupati Hakim. "Ini adalah fondasi untuk membangun masa depan yang berkelanjutan."

Profil Raden Pratanu: Tokoh yang Mengubah Sejarah

Raden Pratanu, yang dinobatkan sebagai Panembahan Lemah Duwur pada 24 Oktober 1531, adalah tokoh kunci dalam sejarah Madura Barat. Pemerintahannya membawa perubahan signifikan, termasuk penyebaran Islam dan pengembangan hubungan dengan kerajaan Jawa.

Di bawah kepemimpinannya, Arosbaya menjadi pusat politik dan spiritual. Namun, investigasi Kabar Gemerlap menemukan bahwa sebagian besar situs peninggalan kerajaan tersebut belum mendapatkan perlindungan yang memadai dari pemerintah daerah.

Dengan perayaan ke-495 ini, Kabupaten Bangkalan dihadapkan pada pertanyaan kritis: apakah momentum ini akan menjadi awal dari pelestarian sejarah yang berkelanjutan, atau sekadar ritual tahunan yang terlewat dari realitas?