Kabar Gemerlap - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menetapkan target ambisius untuk menurunkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Jakarta hingga 3,5% pada 2026. Namun, investigasi Kabar Gemerlap mengungkapkan tantangan signifikan dalam mewujudkan target tersebut, termasuk kesenjangan antara jumlah pelamar yang mendaftar (28.000) dan lowongan yang tersedia (12.000) dalam Karir Jakarta Expo 2026.
Di Convention Hall SMESCO, Jakarta Selatan, Pramono menekankan pentingnya pengelolaan peluang kerja yang berkelanjutan. Ia berharap Jakarta menjadi percontohan nasional, meski data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan bahwa jumlah pengangguran nasional mencapai 7,24 juta orang pada Februari 2026.
“Jakarta sekarang ini dengan IPM nomor satu di Indonesia, 85,05. Tapi tidak ada artinya kalau peluang kerja tidak ter-maintained,” kata Pramono.
Dalam investigasi ini, Kabar Gemerlap menemukan bahwa meski Pemprov DKI menggelar Karir Jakarta Expo 2026 dengan 100 perusahaan, jumlah pelamar melebihi dua kali lipat lowongan yang ditawarkan. Hal ini memicu pertanyaan: apakah program penyerapan tenaga kerja yang diusung cukup efektif?
Sementara itu, data Penduduk Usia Kerja (PUK) Februari 2026 menunjukkan bahwa 7,24 juta orang di Indonesia masih menganggur, dengan 62,9% di antaranya laki-laki. Tantangan ini semakin kompleks mengingat Jakarta harus menghadapi tekanan ekonomi nasional sekaligus memenuhi target TPT yang ambisius.
Investigasi Kabar Gemerlap juga menyoroti perbedaan antara pengangguran dan penduduk usia kerja yang tidak bekerja karena pendidikan atau urusan rumah tangga. Dengan 16,86 juta orang yang fokus pada pendidikan dan 39,28 juta yang mengurus rumah tangga, pertanyaan muncul: bagaimana Jakarta memastikan bahwa program penyerapan tenaga kerja benar-benar mencakup seluruh kelompok?
“Mudah-mudahan Saudara-saudara sekalian segera mendapatkan pekerjaan di Jakarta ini,” harap Pramono, sementara Kabar Gemerlap terus memantau progres dan potensi hambatan dalam upaya tersebut.
Potensi Kesenjangan antara Target dan Realitas
Data dari Pusdatik Kemnaker menunjukkan bahwa meski Jakarta memiliki IPM tertinggi, TPT saat ini masih 5,79%, jauh dari target 3,5%. Investigasi ini mengungkap kekhawatiran bahwa langkah-langkah yang diambil mungkin tidak cukup untuk mengatasi tantangan struktural dalam pasar tenaga kerja Jakarta.
Dengan lebih dari 28.000 pelamar yang mendaftar untuk 12.000 lowongan, Kabar Gemerlap mengajukan pertanyaan kritis: apakah program penyerapan tenaga kerja yang diusung Pemprov DKI cukup berkelanjutan? Bagaimana Jakarta memastikan bahwa peluang kerja yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan industri dan keterampilan masyarakat?
Investigasi ini menunjukkan bahwa meski ada penurunan TPT, langkah-langkah yang diambil masih perlu diverifikasi lebih lanjut untuk memastikan bahwa target 3,5% dapat tercapai tanpa mengabaikan tantangan struktural dalam pasar tenaga kerja Jakarta.