Kabar Gemerlap - Penayangan film The Doll: Ghawiah di layar IMAX memicu investigasi mendalam terhadap proses produksi dan reaksi kru. Artis Sara Wijayanto dan Darius Sinathrya mengungkapkan ketidaknyamanan awal terhadap format layar besar.

Film prekuel ini, diproduseri oleh Rocky Soraya, menghadapi tantangan teknis dan artistik untuk menyesuaikan dengan standar IMAX. Sara Wijayanto mengakui kekhawatiran fisik saat mengetahui penayangan di layar besar.

"Kaget banget saat dikasih tahu. Kekhawatiran muncul karena ukuran layar yang besar, membuat saya merasa insecure," ujar Sara saat diwawancarai di Jakarta Pusat.

Analisis teknis menunjukkan bahwa IMAX membutuhkan penyesuaian khusus, seperti peningkatan resolusi dan kualitas suara. Darius Sinathrya mengakui perbedaan signifikan dalam pengalaman menonton.

"Lebih jernih dalam detail adegan dan audio. Harapannya, penonton akan mendapatkan immersive experience yang menghibur," jelas Darius.

Produser Rocky Soraya menjelaskan bahwa film ini melalui seleksi ketat oleh IMAX. Proses kerja sama dimulai tiga bulan sebelum penayangan.

"IMAX memilih film ini karena dinilai cocok untuk layar besar. Proses negosiasi dimulai sejak tiga bulan lalu," terang Rocky.

Konteks Produksi dan Sinopsis

The Doll: Ghawiah mengambil latar tahun 1988, menggambarkan keluarga Arya (Darius) dan Evi (Titi Kamal) yang pindah ke Bandung. Penemuan boneka Ghawiah menjadi pintu masuk teror yang membawa arwah Uci (Fara Shakila).

Film ini akan tayang di 18 layar IMAX mulai 29 Oktober 2026, dengan harapan menarik penonton profesional dan penggemar horor.