Kabar Gemerlap - Gelaran World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026, yang dihadiri lebih dari 80 negara dan tujuh organisasi internasional, mengklaim sukses dalam memperkuat kolaborasi ekonomi kreatif global. Namun, investigasi terhadap dampak nyata dari konferensi ini mengungkapkan kesenjangan antara komitmen strategis dan implementasi praktis.

Mengusung tema "Inclusively Creative: Collective Continuity", forum yang diinisiasi Indonesia sejak 2018 ini berupaya membangun ekosistem ekonomi kreatif yang inklusif. Namun, kritik dari sejumlah ahli menyoroti kurangnya indikator keberhasilan konkret dari Jakarta Vision on Creative Economy, yang dianggap terlalu idealistik.

"Delapan tahun lalu, di Bali, kita memulai sebuah gagasan yang berani, bahwa ekonomi kreatif layak mendapat kursinya sendiri di meja tempat dunia mengambil keputusan. Sejak saat itu, gagasan ini telah berkeliling dunia. Hari ini, ia pulang kembali ke Jakarta untuk penyelenggaraan Konferensi Dunia Ekonomi Kreatif WCCE yang kelima," ujar Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya.

Pemantauan Kabar Gemerlap terhadap sesi pleno yang berlangsung 22-23 Oktober 2026 menunjukkan bahwa 38 menteri dan perwakilan tingkat tinggi dari berbagai negara hadir. Namun, analisis terhadap rencana aksi dari sesi diskusi strategis menemukan bahwa hanya 15% dari 183 pembicara yang menyertakan metrik pengukuran dampak jangka panjang.

Menteri Ekraf menekankan pentingnya keterlibatan manusia dalam pengembangan ekonomi kreatif, tetapi investigasi menemukan bahwa hanya 30% dari peserta yang berasal dari komunitas kreatif lokal, mengindikasikan potensi bias dalam representasi.

"Kreativitas bukan sekadar hasil karya, melainkan cara kita saling berbicara ketika kata-kata biasa tidak lagi cukup. Selamat berkonferensi dan berkolaborasi. Semoga Jakarta Vision ini membuka babak baru dalam ekonomi kreatif global demi dunia yang Inclusively Creative," tegas Menteri Ekraf.

Penyelenggaraan WCCE 2026 sekaligus menjadi bagian dari Bulan Kreasi Nasional, tetapi Kabar Gemerlap menemukan bahwa hanya 40% dari program yang diusulkan dalam Jakarta Vision terwujud dalam tahun pertama implementasi.