Acara bertema anak muda kembali menjadi sorotan publik dalam dua hari berturut-turut, namun kali ini menimbulkan pertanyaan mendalam: siapa sesungguhnya yang berbicara atas nama generasi muda Indonesia? Meski tema yang diusung seragam, dua peristiwa berbeda menggambarkan ketegangan antara representasi dan realitas di panggung publik.
Peristiwa pertama terjadi pada Kamis, 29 Oktober 2026, di Bundaran HI, saat digelar Deklarasi Sumpah Pemuda dalam rangka memperingati 98 tahun Sumpah Pemuda. Acara ini menjadi pusat perhatian karena munculnya sejumlah individu berjaket almamater yang diduga bukan mahasiswa sungguhan.
Di tengah keramaian, sosok pria bernama Bayu Setiadi tampil mengenakan jaket almamater Universitas Dian Nusantara (Undira). Ia kemudian mengungkapkan bahwa dirinya bukan mahasiswa kampus tersebut dan menyebut jaket diberikan oleh panitia acara. Ia juga menegaskan telah dibayar untuk hadir.
Kepala BEM Undira secara resmi menyatakan bahwa almamater mereka dicatut tanpa izin, memperkeruh isu yang sudah mulai menyebar di media sosial. Warganet pun dengan cepat menciptakan istilah baru: 'mahasewa', sebagai sindiran terhadap praktik penggunaan mahasiswa fiktif demi tampilan simbolis.
Raffi Ahmad hadir dalam acara tersebut dan diberitakan mengajak generasi muda untuk melawan hoaks. Namun, kehadirannya justru menjadi pusat kontroversi karena kaitannya dengan isu jaket almamater yang tidak sah.
Keesokan harinya, Jumat, 30 Oktober 2026, acara serupa kembali digelar di Gedung Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki. Kali ini, Indonesia Youth Summit 2026 diselenggarakan oleh Kemenpora sebagai bagian dari peringatan Sumpah Pemuda ke-98.
Acara ini menampilkan Raffi Ahmad sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, bersama Menpora Erick Thohir yang juga berada di atas panggung. Keduanya sedang menyampaikan pidato ketika tiba-tiba seorang pria dari penonton berdiri.
Pria tersebut langsung berteriak, mengacungkan salam tiga jari ke arah panggung. Reaksi ini memicu kehebohan di ruangan teater yang sempat riuh. Tak lama kemudian, petugas keamanan segera mendekati dan membawanya keluar ruangan.
Insiden itu tercatat dalam rekaman video yang kemudian tersebar luas di media sosial. Namun, suara dari pria tersebut tidak dapat didengar dengan jelas karena tertutup oleh gema ruangan, sehingga isi teriakannya tetap menjadi misteri.
Salam tiga jari sendiri sering dikaitkan dengan simbol protes atau perlawanan, khususnya dalam konteks gerakan sosial di berbagai negara. Namun, tanpa klarifikasi dari pihak yang bersangkutan, motif dan isi protes tetap tidak diketahui.
Meski demikian, belum ada keterangan resmi dari panitia penyelenggara atau Kemenpora mengenai insiden tersebut. Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi terkait tindakan pria tersebut maupun alasan dibawanya keluar.
Kedua acara yang digelar dalam rentang waktu singkat—29 dan 30 Oktober 2026—menunjukkan pola serupa: keterlibatan tokoh publik, kehadiran simbolisme generasi muda, dan munculnya tanda-tanda ketidaksesuaian antara narasi resmi dengan realitas di lapangan.
Di Bundaran HI, isu 'mahasewa' menggambarkan bagaimana simbol mahasiswa bisa dimanipulasi untuk kepentingan citra. Di Teater Jakarta, interupsi dengan salam tiga jari menunjukkan adanya ketegangan yang muncul dari dalam penonton, bukan dari panggung.
Meski terjadi pada hari berbeda dan tempat berbeda, kedua peristiwa ini mengundang pertanyaan serius: apakah acara-acara yang digelar atas nama anak muda benar-benar mencerminkan suara mereka? Atau justru menjadi alat untuk memperkuat narasi penguasa?
Ketidakjelasan motif interupsi di Teater Jakarta membuat spekulasi muncul. Bisa jadi, tindakan itu merupakan respons langsung terhadap kontroversi jaket almamater. Namun, hingga saat ini belum ada bukti atau pernyataan yang menghubungkan keduanya secara langsung.
Kemungkinan lain adalah bahwa interupsi tersebut muncul dari kekecewaan terhadap representasi generasi muda yang dianggap tidak autentik. Bisa jadi, pria itu merasa bahwa acara-acara seperti ini hanya menampilkan wajah yang diproduksi, bukan suara nyata dari anak muda.
Raffi Ahmad kemudian memberikan klarifikasi melalui Instagram pada Jumat, 30 Oktober 2026. Menurut laporan Gelora, ia menyatakan bahwa dirinya hadir sebagai undangan, baru mengetahui kehadirannya malam sebelum acara, dan tidak terlibat dalam perencanaan atau penyusunan acara.
Pernyataan ini menunjukkan jarak antara figur publik yang diundang dan proses pengelolaan acara. Namun, hal itu juga memperkuat keraguan: jika tokoh seperti Raffi Ahmad tidak tahu detail acara, lalu siapa yang mengendalikan narasi dan simbolisme?
Kemenpora sebagai penyelenggara Indonesia Youth Summit 2026 belum memberikan tanggapan resmi terkait insiden di Teater Jakarta. Demikian pula dengan panitia acara, yang tetap diam meski video insiden telah viral.
Polemik jaket almamater di Bundaran HI pun masih berlanjut. BEM Undira menegaskan bahwa mereka tidak memberi izin penggunaan almamater, dan masyarakat mulai mempertanyakan legitimasi acara-acara yang mengandalkan simbolisme mahasiswa.
Bagi anak muda yang menyaksikan dari layar, pertanyaan tentang siapa yang mewakili mereka bukan sekadar retorika. Ia menentukan siapa yang dianggap punya otoritas untuk berbicara atas nama generasi, dan siapa yang hanya menjadi properti panggung.
Kedua peristiwa ini menggambarkan ketegangan antara representasi dan realitas. Di satu sisi, acara-acara besar digelar dengan simbolisme kuat. Di sisi lain, muncul tanda-tanda bahwa suara sejati dari anak muda justru muncul dari tempat yang tak terduga—dari penonton, dari kritik, dari interupsi.
Ketika simbol-simbol seperti jaket almamater dan salam tiga jari muncul dalam konteks publik, mereka bukan sekadar isyarat visual. Mereka menjadi alat untuk menilai sejauh mana acara-acara ini benar-benar mewakili anak muda, atau hanya memanipulasi citra.
98 tahun setelah Sumpah Pemuda, tantangan terbesar bukan lagi pada pernyataan kebangsaan, melainkan pada kredibilitas narasi yang dibangun atas nama generasi muda. Apakah acara-acara seperti ini benar-benar membuka ruang bagi suara nyata, atau hanya menutupinya dengan simbolisme?
Ketidakjelasan dari kedua insiden—baik dari segi motif maupun respons resmi—menunjukkan adanya celah antara kehadiran publik dan keterwakilan nyata. Ini bukan sekadar soal satu pria yang mengacungkan tiga jari, tetapi tentang sistem yang memungkinkan simbolisme tanpa substansi.
"Lihat postingan di Instagram"