LambeTurahBali - Hari Sumpah Pemuda 2026 yang seharusnya menjadi momongan refleks persatuan bangsa justru mengalami perubahan dramatis. Demonstrasi tersebut berlangsung dengan tenang di titik nol kilometer dalam kehadiran ratusan peserta termasuk mahasiswa, pemuda, dan pekerja sampai sore hari.

Aksi ini bermula damai...

...di kawasan Titik Nol Kilometer pada siang hari, diikuti ribuan massa dari kalangan mahasiswa, pemuda, buruh, hingga elemen masyarakat sipil.

Pertentangan mulai intens saat rakyat melanjutkan perjalanan menuju Gedung DPRD DIY. Gerbangnya sudah tertutup sejak siang hari; namun ketegangan meletus sewaktu beberapa dari mereka mengejar petasan serta menghurl batu pada gerbang itu hingga akhirnya berhasil memecahkannya untuk mendeklarasikan akses ke lobi gedung dewan.

Situasi menjadi sangat panik dan cemas, sehingga wisatawan yang berada di dekat lokasi tersebut pun bergabung dengan jemaah masjid sisi utara gedung sebagai tempat perlindungan.
"Pada pukul 19:42 WIB, petugas kepolisian menggunakan api air (water cannon) untuk memecah kelompok massa yang belum bergerak dari area depan DPRD DIY."

Polda Daerah Istimewa Yogyakarta sudah mengirimkan ratusan personel ke lobi dan sekitar Malioboro semenjak pagi. Setelah beberapa waktu, situasi tegang naik ketika mereka harus mengerahkan water cannon pada malam hari.

Saat spanduk dan baliho yang dibakar oleh massa menghiasi Jalan Malioboro, suara petasan masih terdengar dari jauhan. Massa sempat mundur menuju Stasiun Tugu sebelum kembali maju; tetapi sampai pukul 20:36 WIB, kerumunan belum berkurang.

Puncaknya pada pukul 20:45 WIB ketika polisi melakukan dorongan besar-besaran ke arah massa. Dalam peristiwa ini, massa ditekan melintas melewati perlintasan kereta api di Stasiun Tugu dan kemudian dipungut hingga mencapai Jalan Mangkubumi.

Dalam situasi ini, sejumlah warga dan petugas kepolisian di laporkan mengalami cedera dan mendapat penanganan medis darurat di tempat insiden tersebut terjadi. Meski jumlah pastinya belum diketahui. Insiden lainnya yang menjadi sorotan adalah juru parkir sempat menjadi target amukan massa dengan tuduhan kerap melakukan tindak kekerasan pada demonstran dalam aksi-aksi sebelumnya.

Massa membawa 12 tuntutan yang luas cakupannya mulai dari upah berdasarkan kebutuhan hidup layak sesuai UMK Rp4,604,962; pengurangan harga bahan pokok; penetapan karhutla sebagai bencana nasional dan transparansi hak guna usaha lahan. Pengusutan dugaan korupsi termasuk kasus Stadion Mandala Krida, TNI kembali ke barak serta pembatalan rencana batalyon teritorial.

Penghapusan program makan bergizi gratis digantikan dengan pendidikan gratis ilmiah juga dilakukan hentian perampasan tanah dan eksploitasi sumber daya alam. Terakhir adalah jaminan kebebasan berekspresi dan penghentian kriminalisasi gerakan serta penyitaan ojek online.

Informasi Resmi Belum Dikeluarkan

Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pihak kepolisian maupun pemerintah daerah DIY terkait jumlah korban, kemungkinan penangkapan, atau tanggapan atas dua belas tuntutan yang diusung massa.

Satu-satunya respons yang terekam di lapangan hanyalah imbauan lewat pengeras suara polisi yang berulang kali meminta massa membubarkan diri dan pulang ke rumah masing-masing.

Dengan Situasi Yang Masih Dinamis Hingga Larut Malam

Sekarang Publik Menantikan Klarifikasi Resmi Sekaligus Langkah Lanjutan Pemerintah Menyikapi Tuntutan Yang Disuarakan Di Hari Ini.