Ketegangan akibat penggunaan almamater berlogo lama Bina Sarana Informatika (BSI) dalam acara deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, akhirnya mendapat respons dari pihak terkait. Seorang perempuan bernama Sari Putri secara resmi memberikan klarifikasi atas kejadian yang memicu kontroversi tersebut.
Melalui pernyataan tertulis, Sari menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) atas ketidaknyamanan dan kesalahpahaman yang muncul akibat tindakannya.
Dalam pernyataannya, Sari secara tegas menegaskan bahwa dirinya bukan merupakan mahasiswa aktif UBSI. Ia juga menekankan bahwa almamater yang dipakainya tidak merepresentasikan identitas resmi atau status akademiknya di kampus tersebut.
Sari menjelaskan bahwa almamater berlogo lama BSI yang digunakan berasal dari seseorang yang tidak dikenalinya secara pribadi. Ia mengaku menerima hadiah tersebut tanpa mengetahui konteks sejarah atau kebijakan penggunaannya.
"Saya atas nama saya Sari Putri meminta maaf kepada seluruh mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika atas polemik yang terjadi terkait penggunaan almamater berlogo lama BSI dalam deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran HI," ujar Sari dalam pernyataan klarifikasinya, menunjukkan kesadaran atas dampak yang ditimbulkan oleh tindakannya.
Ia mengakui bahwa penggunaan almamater tersebut telah menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat luas. Bahkan, polemik ini dinilai berpotensi merusak citra institusi pendidikan UBSI secara keseluruhan.
Atas kejadian yang tidak disengaja ini, Sari menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya dan mengambil tanggung jawab penuh atas tindakannya sendiri.
"Saya menyadari penggunaan almamater tersebut telah menimbulkan kesalahpahaman dan berdampak pada nama baik institusi. Atas hal tersebut, saya memohon maaf sebesar-besarnya dan saya bertanggung jawab atas tindakan saya," lanjutnya, menegaskan komitmen untuk memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan.
Sari juga menekankan bahwa semua tindakan dan pernyataan yang berkaitan dengannya tidak mewakili sikap resmi atau kepentingan institusi UBSI. Ia menegaskan bahwa dirinya bukan perwakilan dari kampus manapun.
Ia berharap masyarakat dapat melihat kasus ini secara objektif, tanpa menggeneralisasi tindakannya terhadap seluruh mahasiswa atau civitas akademika UBSI yang tidak terlibat dalam insiden tersebut.
Pernyataan klarifikasi ini disampaikan sebagai respons atas gelombang kritik dan spekulasi yang muncul pasca-kejadian di Bundaran HI. Sari berharap dengan adanya penjelasan ini, kesalahpahaman yang telah berkembang bisa segera diluruskan.
Harapan terakhirnya adalah agar nama baik Universitas Bina Sarana Informatika serta seluruh mahasiswa yang tidak terlibat dalam insiden tersebut tidak terganggu lebih lanjut akibat persepsi yang keliru.