Jetlag tampaknya bukan penghalang bagi DJ Puput Carolina. Baru saja tiba dari Amsterdam, ia langsung melanjutkan perjalanan ke Jakarta untuk tampil di festival musik Halloween Scream or Dance pada Sabtu, 31 Oktober 2026. Dengan cuaca panas terik dan keramaian penonton yang antusias, Puput menyuguhkan performa selama 21 lagu, menutup setnya tepat saat azan magrib berkumandang di langit Jakarta.

Acara Scream or Dance tahun ini mengusung tema Blooming Garden dan diselenggarakan di Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran. Berdasarkan jadwal resmi, Puput Carolina tampil di panggung SOD Stage sekitar pukul 17.00 hingga 18.00 WIB, sebelum nama-nama besar seperti Cheat Codes, Dash Berlin, dan Jonas Blue mengambil alih panggung pada malam hari.

Puput menyampaikan kepuasannya terhadap suasana festival tersebut. "Malam ini main di Scream or Dance di Indonesia. Menarik banget, soalnya hari ini ramai banget, jadi senang juga. Line up-nya luar biasa, hari ini ada Dash Berlin dan Jonas Blue, yang mana mereka luar biasa banget," ujarnya, menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap pengalaman bermain di tengah keramaian dan energi penonton.

Jadwal tampilnya memang sangat padat. Ia mengungkapkan bahwa ia baru saja tiba dari Amsterdam sebelum langsung menuju venue. Soal persiapan, jawabannya terdengar santai. "Persiapannya di pesawat aja, hahaha," katanya sambil tertawa, menunjukkan sikap profesional yang tetap tenang meski kondisi mendesak.

Perbedaan cuaca dibanding tahun lalu menjadi catatan menarik. Puput menyebut bahwa tahun lalu ia dan tim sempat khawatir karena hujan deras mengganggu jalannya acara. Namun tahun ini, situasinya berkebalikan—cuaca sangat panas dan menyengat.

"Kalau tahun lalu takut hujan, sekarang panas banget, jadi persiapannya ya keringetan aja hari ini, hahaha," tuturnya, menekankan bagaimana kondisi alam bisa memengaruhi pengalaman performa di luar ruangan.

Sebelum ke Jakarta, Puput sempat menghadiri Amsterdam Dance Event (ADE), ajang tahunan yang menjadi pusat pertemuan industri musik elektronik global. ADE edisi 2026 berlangsung dari 21 hingga 25 Oktober dan merupakan perayaan ke-30 penyelenggaraannya.

Bagi Puput, ADE bukan sekadar festival hiburan semata. "Itu acara tahunan, jadi semua musisi, produser, dan juga club owner dari seluruh dunia datang untuk melihat dan mencari talenta baru, mencari produser, ada juga yang kolaborasi. Jadi kita di sana update dan connect aja," jelasnya, menekankan nilai profesional dan jaringan yang lebih dalam dari acara tersebut.

Ia menyampaikan rasa syukur karena telah tampil beberapa kali di ADE dan berkesempatan berinteraksi dengan musisi dari berbagai negara. "Puji Tuhan, kemarin tampil di sana beberapa kali, jadi kenal banyak musisi dari dunia, dari Eropa, Jepang, Korea. Pokoknya dari seluruh dunia datang ke situ," ucapnya, menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas budaya dalam industri musik elektronik.

Sebelum terbang ke Eropa, Puput sempat tampil di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Di sana, ia merasakan langsung dampak kabut asap yang tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). "Palangkaraya itu asapnya parah banget sebelum aku berangkat ke Amsterdam. Puji Tuhan, kemarin sampai di Amsterdam jadi bisa hirup udara segar," ceritanya, menggambarkan kondisi lingkungan yang ekstrem saat manggung.

Dari pengalaman tersebut, Puput menyampaikan harapan agar masalah karhutla segera ditangani secara serius. "Mudah-mudahan dalam waktu dekat para petinggi, Pak Presiden, dan para pejabat yang berhubungan dengan hal itu bisa mengatasinya, karena kesehatan itu nomor satu dan udara bersih itu hak setiap warga negara," katanya, menunjukkan kesadaran sosial yang mendalam di balik karyanya sebagai musisi.

Terkait proyek baru, Puput mengungkapkan bahwa ia sudah menyiapkan lagu-lagu terbaru. Namun, waktu rilis belum tepat. "Tadinya lagu baru mau dikeluarkan, cuma timing-nya belum dapat di sini," ungkapnya, menunjukkan proses kreatif yang matang namun tetap fleksibel.

Meski begitu, ia mengaku mendapatkan inspirasi besar dari performa malam itu. "Project barunya sambil joget sambil dengar dance. Tadi juga lihat banyak orang dance, jadi aku bikin lagu yang bikin orang dance," lanjutnya, menandakan bagaimana pengalaman langsung di atas panggung mampu memicu kreativitas.

Agenda ke depan Puput terbilang sangat padat. Ia akan tampil di Bogor, lalu satu minggu setelahnya melanjutkan perjalanan ke Nabire, dilanjutkan ke Makassar dan Ambon. Ia juga menyebut akan mengikuti Tomorrowland Academy di Thailand, sebelum kembali ke Eropa pada bulan Desember. "Aku ambil tiket ke Tomorrowland Academy di Thailand, setelah itu ke Eropa lagi di bulan Desember," katanya, menunjukkan jadwal internasional yang intensif.

Untuk menjaga stamina dalam kondisi fisik terbaik, Puput menjalani rutinitas ketat. Ia mengonsumsi berbagai jenis vitamin, termasuk vitamin C, omega 3, dan vitamin B kompleks. Namun, menurutnya tidur tetap menjadi faktor terpenting. "Memang lagi kurang tidur, jadi diusahakan banyak tidur," ujarnya, menekankan pentingnya istirahat sebagai fondasi keberhasilan dalam karier yang melelahkan.

Ketika Puput tampil di atas panggung, pengakuan yang ia sampaikan mungkin terdengar familiar bagi mereka yang menjalani rutinitas padat. Ia menekankan bahwa meskipun vitamin bisa membantu menjaga stamina, waktu istirahat tetap tidak bisa digantikan oleh apapun. Kesehatan fisik dan mental tetap menjadi fondasi utama dalam aktivitas kreatif yang intens.

Selama penampilannya, Puput membawakan sejumlah lagu hasil karyanya sendiri, dilengkapi dengan beberapa mashup yang menunjukkan keberagaman gaya musiknya. "Tadi beberapa lagu aku sendiri, terus ada beberapa lagu yang aku mashup, ya genjos, seneng pada relate sama lagunya," katanya, menggambarkan bagaimana ia memadukan elemen-elemen berbeda untuk menciptakan pengalaman audio yang unik.

Secara keseluruhan, Puput memainkan 21 lagu selama durasi penampilannya. Setiap lagu menjadi bagian dari narasi emosional dan musikal yang ia bangun di atas panggung, menunjukkan konsistensi dan kedalaman dalam pendekatannya terhadap musik.

Momen yang paling membekas bagi Puput adalah ketika penampilannya berakhir tepat pada saat azan magrib berkumandang. "Begitu azan, kita selesai musiknya, kita menghormatinya. Jadi pas banget berhenti di azan," ucapnya, menggambarkan momen yang tidak hanya menandai akhir pertunjukan, tetapi juga refleksi atas nilai-nilai spiritual dan disiplin pribadi di tengah hiruk-pikuk festival.

Sikap ini patut dicatat sebagai bentuk kesadaran dan penghormatan terhadap tradisi. Di tengah euforia musik elektronik yang sering kali berlangsung hingga larut malam, Puput memilih menghentikan alunan musik tepat waktu, menunjukkan keseimbangan antara kreativitas dan disiplin pribadi.

Antusiasme penonton justru melebihi ekspektasi Puput. Ia mengaku terkejut dengan jumlah pengunjung yang hadir, terutama karena slot sore menjelang matahari terbenam biasanya lebih santai dan masih banyak waktu bagi orang-orang untuk tiba. Namun kali ini, suasana justru ramai sejak awal. "Nggak nyangka sih. Biasanya pas sunset itu pada santai, tapi tadi lumayan crowd-nya," katanya, menandakan daya tarik yang kuat dari penampilannya.

Scream or Dance 2026 merupakan festival musik bertema Halloween yang telah menjadi tradisi di Indonesia. Edisi tahun ini mengusung konsep Blooming Garden, dengan empat panggung utama: SOD Stage, Blooming Garden, Spektrum Clouds, dan Gardenia by Alter. Konsep ini menekankan transformasi visual dan atmosfer berubah seiring waktu malam yang semakin larut.

Selain Puput, sejumlah nama besar turut tampil dalam festival tersebut, termasuk Adieh Flowz, Brett Allen, Dipha Barus and Friends, Bravy, Cheat Codes, Dash Berlin, dan Jonas Blue. Kombinasi antara musisi lokal dan internasional menunjukkan komitmen penyelenggara untuk menyajikan pengalaman musik yang beragam dan inklusif.

Festival ini memiliki jejak panjang dengan konsep tahunan yang terus berevolusi. Sebelumnya, edisi-edisi sebelumnya dikenal melalui tema seperti Rumah Gagak, The Lost Pyramids, dan Undiscovered Universe. Tahun lalu, Afrojack menjadi headliner utama, menunjukkan ambisi besar dalam menarik talenta global.

Penyelenggara menyebut Scream or Dance sebagai festival musik Halloween ala Indonesia, dengan dekorasi dan suasana panggung yang berubah secara dinamis seiring malam berjalan. Pada 2026, festival ini juga memperluas jumlah panggung, memberi penonton lebih banyak pilihan pertunjukan—mulai dari DJ internasional hingga musisi lokal yang sedang naik daun.

Sebagai konteks penting, ADE (yang menjadi acuan utama dalam industri musik elektronik) mencatat rekor sekitar 600.000 pengunjung pada edisi 2025. Artinya, jaringan yang dibangun Puput di festival ini terjadi di salah satu pusat industri musik elektronik terbesar dunia, dan hasilnya bisa dimanfaatkan untuk memperkuat karier kreatifnya di Tanah Air.

Bagi Puput, tampil di festival semacam ini bukan sekadar soal bermain musik. Ia melihatnya sebagai kesempatan untuk terhubung langsung dengan penonton—orang-orang yang datang untuk bersenang-senang, tanpa peduli kondisi cuaca atau waktu. Ini adalah bentuk koneksi emosional dan budaya yang jauh lebih dalam dari sekadar pertunjukan musik.