Persiapan menyambut libur Natal 2026 dan Tahun Baru 2027 mulai digenjot secara intensif oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya. Langkah strategis ini diambil untuk mengantisipasi lonjakan mobilitas masyarakat yang diprediksi akan terjadi pada periode akhir tahun.

Salah satu fokus utama dalam persiapan tersebut adalah peningkatan fasilitas keselamatan di 15 titik perlintasan sebidang yang tersebar di berbagai wilayah Jawa Timur. Upaya ini dilakukan guna mengurangi risiko kecelakaan akibat interaksi antara kendaraan dan kereta api selama masa angkutan libur panjang.

Manager Humas KAI Daop 8 Surabaya, Mahendro Trang Bawono, menegaskan bahwa peningkatan fasilitas di perlintasan sebidang menjadi prioritas utama menjelang masa Angkutan Natal dan Tahun Baru (Nataru). Ia menyatakan bahwa langkah ini merupakan bagian dari komitmen KAI untuk memastikan keselamatan penumpang dan pengguna jalan.

"Di antaranya Surabaya, Lamongan, Mojokerto, dan Sidoarjo. Penanganannya disesuaikan dengan kondisi masing-masing lokasi," katanya, menekankan pentingnya perbaikan infrastruktur yang langsung berdampak pada keamanan publik di area perlintasan kereta api.

Perlintasan yang sebelumnya tidak memiliki pos penjagaan akan dilengkapi dengan fasilitas penjagaan. Sementara itu, lokasi yang belum dilengkapi palang pintu akan dipasangi palang untuk memperkuat pengawasan dan mencegah akses sembarangan.

Sebelumnya, KAI Daop 8 telah mengusulkan penanganan terhadap sekitar 110 titik perlintasan sebidang yang dianggap rawan. Namun, karena keterbatasan waktu hingga akhir tahun, fokus awal diberikan hanya pada 15 titik terlebih dahulu.

Penanganan sisa titik perlintasan lainnya akan dilakukan secara bertahap sesuai dengan rencana dan ketersediaan anggaran. Pendekatan ini memungkinkan KAI untuk menyelesaikan prioritas utama terlebih dahulu sebelum melanjutkan ke area lain.

Selain perbaikan fisik, KAI Daop 8 juga memperkuat pengawasan lapangan. Peningkatan jumlah petugas dan penempatan pos pengawas di titik-titik kritis menjadi bagian dari strategi pencegahan kecelakaan.

"Khusus di wilayah Lamongan, sebanyak 24 petugas disiagakan untuk menjaga 17 Jalur Perlintasan Langsung (JPL) selama 24 jam," tambahnya, menyoroti pentingnya kehadiran personel langsung di lokasi untuk memantau aktivitas lalu lintas dan memberikan respons cepat jika terjadi gangguan.

Langkah ini dimaksudkan agar perjalanan kereta api dan kendaraan masyarakat yang melintasi jalur tersebut tetap berjalan dengan aman dan terkendali. Pengawasan intensif juga membantu menghindari pelanggaran aturan lalu lintas di area perlintasan.

KAI Daop 8 tidak hanya fokus pada perlintasan, tetapi juga mempersiapkan antisipasi terhadap potensi gangguan lain seperti cuaca ekstrem dan banjir. Berdasarkan evaluasi kondisi tahun sebelumnya, sejumlah Daerah Pantauan Khusus telah dipetakan untuk pengawasan lebih intensif.

"Terdapat lima titik rawan yang menjadi perhatian, terutama di lintas selatan seperti Porong serta wilayah selatan Malang, termasuk Garum dan Karangkates," jelasnya, menjelaskan bahwa daerah-daerah tersebut menjadi fokus utama dalam pemantauan karena rentan terhadap dampak cuaca buruk yang dapat mengganggu operasional kereta api.

Menjelang masa Angkutan Nataru, titik-titik tersebut akan diverifikasi kembali untuk menilai apakah masih memerlukan peningkatan pengawasan atau perlu ditambahkan lokasi baru. Proses verifikasi ini dilakukan secara berkala guna menjaga kesiapan operasional.

Selain perbaikan perlintasan, KAI Daop 8 juga melakukan peningkatan prasarana dengan fokus pada perbaikan dan penggantian rel. Pekerjaan ini ditargetkan selesai pada awal Desember 2026, atau tepat sebelum masa Angkutan Nataru dimulai.

Upaya ini dilakukan untuk memastikan kondisi jalur kereta api tetap dalam keadaan andal dan aman menghadapi lonjakan perjalanan serta peningkatan mobilitas penumpang selama libur akhir tahun.

Terkait kemungkinan penambahan perjalanan kereta api selama Nataru, KAI Daop 8 menyatakan bahwa pembahasan masih berlangsung. Keputusan akhir tidak bisa diambil secara sepihak oleh satu daerah operasi.

Mahendro menjelaskan bahwa keputusan penambahan perjalanan harus mempertimbangkan ketersediaan sarana kereta api secara nasional, termasuk kebutuhan dari daerah operasi lain. Koordinasi lintas daerah menjadi kunci dalam proses ini.

KAI berharap bahwa peningkatan fasilitas keselamatan di 15 titik perlintasan sebidang serta perbaikan prasarana dapat mendukung kelancaran dan keamanan perjalanan kereta api selama libur Natal dan Tahun Baru.

Menjelang masa libur, masyarakat juga diingatkan untuk tidak melakukan tindakan sembarangan saat melintasi jalur kereta api. Larangan termasuk menerobos palang pintu, berhenti di atas rel, serta mengabaikan rambu dan sinyal peringatan.

Ingat, kereta api membutuhkan jarak pengereman yang sangat panjang. Jangan mengambil risiko hanya karena ingin cepat sampai tujuan. Keselamatan adalah prioritas utama bagi semua pengguna jalan dan penumpang kereta api.